Halaman

Makan Malam di Angkringan

 

Makan malam di angkringan dekat rumah yang lama tak aku tinggali. 

Ia menyapaku dengan penuh kehangatan, seperti berjumpa teman lama. 

Selesai makan, ia bercerita tentang perubahan. 

"Orang yang makan di sini tidak seramai dulu." 

Ia lantas menyebut beberapa faktor pembeda masa lalu dan sekarang. 

"Dulu di sekitar sini ada tiga warnet. Ada dua lapangan futsal. Pulang dari warnet atau futsal, makan di sini. Sekarang sudah tidak begitu lagi. Orang-orang banyak di rumah, memesan online untuk beli makan."

Aku menghitung, sejak tinggal di rumah istriku di sisi selatan Jogja awal 2020, ini adalah kali kedua aku makan di angkringan ini. 

Tidak ada yang berubah dari menu di angkringan ini. Pun tata penyajiannya, sejak aku pertama kali makan di angkringan ini waktu masih kuliah sekitar tahun 2009-2016 masih sama. 

Saat berpamitan pulang, aku melihat sekali lagi raut wajahnya. Perubahan satu-satunya dari angkringan ini adalah usia wajah pemiliknya.

Transformasi

 

Lingkungan sekitar rumah yang lama tak aku tinggali sudah bertransformasi. 

Di dekat rumah ada sebuah resto bernama Omah Kopi. Dulu itu adalah sebuah rumah dengan pekarangan luas yang membuat siapa pun mudah iri. 

Pekarangan rumah yang dulu terbuka itu sekarang tertutup tanaman pagar. Orang-orang tak bisa masuk sembarangan. 

Ketika berjalan kaki ke warung untuk membeli rokok, aku mengamati perubahan-perubahan yang aku lewati. Tidak hanya fasad, tapi juga bunyi. 

Betul memang, berjalan kaki adalah kesempatan melatih kepekaan sensori. 

Biarkan tubuh ini terbuka mengalami lingkungan yang bertransformasi.