Halaman

Menjadi Youtuber

Pagi hari ini aku membuat konten pertama untuk channel Youtube TOS!, toko buku dan perpustakaan yang aku kelola bersama istriku, Nia.

Ketika memberi pengumuman ke beberapa teman bahwa TOS! aktif di Youtube, aku melempar candaan seperti ini, "Seorang pengelola toko buku yang menyerah jadi TikTokers sekarang ingin jadi Youtuber".

Aku memang menyerah membuat konten di TikTok. Media sosial itu dibuat bukan untuk orang-orang sepertiku yang menyukai ketenangan dan kelambanan. 

Sekarang aku coba masuk ke semesta Youtube. Aku rasa media sosial ini menyediakan paltform untuk mengakomodasi visiku: digital library. Ia akan mengarsipkan keberadaan toko buku ini lebih baik di Internet untuk masa yang akan datang. Orang-orang di masa mendatang perlu tahu bahwa ada toko buku dan perpustakaan seperti ini di Kota Yogyakarta.

Visi jangka panjang yang aduhai, bukan? wkwk.

Niatan terdekat membuat channel Youtube tentu saja untuk meluaskan jangkauan audiens agar kemungkinan orang-orang yang akan datang mengunjungi TOS! jadi lebih besar. 

Jika teman-teman mau nonton Channel Youtube TOS! silakan ikuti @tosartbookshop

Media Sosial Toko Buku

 

Aku pikir media sosial toko buku akan menarik jika memperlihatkan aktivitas di dalam toko buku. 

Sebagai pengelola dan pengunjung media sosial toko buku, aku ingin melihat bagaimana toko buku beraktivitas. 

Buku-buku, pengunjung, interaksi, dan berbagai macam aktivitas di dalamnya.

Aku ingin melihat lebih banyak (variasi) kehidupan yang ada di toko buku tersebut. 

Bagaimana toko buku hidup setiap hari.

Aku sedang (serius) mengelola media sosial toko bukuku. 

Jika ingin menengok aktivitasnya silakan kunjungi @toskecil.

Makan Malam di Angkringan

 

Makan malam di angkringan dekat rumah yang lama tak aku tinggali. 

Ia menyapaku dengan penuh kehangatan, seperti berjumpa teman lama. 

Selesai makan, ia bercerita tentang perubahan. 

"Orang yang makan di sini tidak seramai dulu." 

Ia lantas menyebut beberapa faktor pembeda masa lalu dan sekarang. 

"Dulu di sekitar sini ada tiga warnet. Ada dua lapangan futsal. Pulang dari warnet atau futsal, makan di sini. Sekarang sudah tidak begitu lagi. Orang-orang banyak di rumah, memesan online untuk beli makan."

Aku menghitung, sejak tinggal di rumah istriku di sisi selatan Jogja awal 2020, ini adalah kali kedua aku makan di angkringan ini. 

Tidak ada yang berubah dari menu di angkringan ini. Pun tata penyajiannya, sejak aku pertama kali makan di angkringan ini waktu masih kuliah sekitar tahun 2009-2016 masih sama. 

Saat berpamitan pulang, aku melihat sekali lagi raut wajahnya. Perubahan satu-satunya dari angkringan ini adalah usia wajah pemiliknya.

Transformasi

 

Lingkungan sekitar rumah yang lama tak aku tinggali sudah bertransformasi. 

Di dekat rumah ada sebuah resto bernama Omah Kopi. Dulu itu adalah sebuah rumah dengan pekarangan luas yang membuat siapa pun mudah iri. 

Pekarangan rumah yang dulu terbuka itu sekarang tertutup tanaman pagar. Orang-orang tak bisa masuk sembarangan. 

Ketika berjalan kaki ke warung untuk membeli rokok, aku mengamati perubahan-perubahan yang aku lewati. Tidak hanya fasad, tapi juga bunyi. 

Betul memang, berjalan kaki adalah kesempatan melatih kepekaan sensori. 

Biarkan tubuh ini terbuka mengalami lingkungan yang bertransformasi. 

Sela Teralis Jendela

 

Hari Senin. Libur. Sore. Sendiri. Di rumah yang lama tak aku tinggali. 

Ketika sedang santai tiduran di kasur ruang tengah, aku mendengar suara janggal dari dalam kamar.

Ketika menoleh, aku melihat seekor kucing berjalan keluar dari kamar. 

Aku tak tahu kapan ia datang dan masuk lewat mana.

Aku sempat menyapanya sebelum ia keluar lewat sela teralis jendela.

29 Oktober 2025

 

Hari ini adalah langkah pertama mempersiapkan produksi buku Vickram. Langkahnya adalah membawa kertas ke percetakan. Sempat deg-deggan dengan hasilnya (soal warna, soal presisi bolak-balik, soal kertas bulk bukan rough). Aku sudah mempersiapkan mentalku dengan matang. Bersama Nia di percetakan. Kami sama-sama lihat proof cetak. Aku kira tak ada masalah. Aku malah kaget karena tidak ada masalah! "Kok langsung bagus ya? biasanya ada aja yang keliru/meleset dan bikin stress. Hasil proof: warna lumayan lah (lebih baik dari pada test printku terkahir ke sana yang masyaallah ambyar), sudah presisi bolak-balik (ini sih yang bikin paling kaget), dan dicetak di atas kertas bulk 120gsm oke juga (aku khawatir kalau banyak detail foto yang akan hilang). 

Semoga besok waktu cetakan jadi hasilnya masih baik. 

Di percetakan tadi, aku dan Nia menghabiskan waktu hanya 20 menit. "Hanya" betul-betul "hanya" karena biasanya menunggu 1 jam untuk cek proof! Dan hasil proofnya biasanya bikin geleng-geleng kepala. Hari ini seolah semua berjalan dengan baik. Terima kasih Tuhan!

Terlepas dari keburuntungan dan hasil proof yang baik, ada kegiatan yang ingin aku ceritakan sebelum berangkat ke percetakan. Sebuah kegiatan yang memakan waktu 5 jam! Yaitu kegiatan persiapan sebelum pergi ke percetakan. Aku memastikan segalanya siap dan tidak ada yang luput. Aku belajar dari keluputan kecil yang dampaknya besar waktu mencetak buku Vickram untuk Indonesia Photo Fair bulan lalu. Ada satu step yang kulewati karena lupa. Itu adalah switch beberapa halaman di PDF. Itu untuk foto spreads bisa di halaman muka cetak yang sama. Bukan depan belakang. Efek kalau depan belakang (kalau lupa switch, fotonya bisa belang atau tidak sejajar foto spreadsnya). Aku juga memastikan switch halaman di PDF-ku bekerja dengan mencetak fotokopi terlebih dahulu. Ketika sudah oke, file berarti sudah siap. 

Lalu aku memastikan jumlah kertas. Aku juga membuat catatan untuk operator cetak dan di bungkusan kertas yang mau dicetak. Bisa dibilang aku cerewet betul lewat pesan-pesan tertulis ini untuk memastikan tidak ada kekeliruan waktu mencetak nanti. Aku mengantisipasi error karena buku Vickram yang dicetak berjumlah 104 buku! 572 lembar B2. Yang mengabiskan uang Rp5.148.000! Bukan uang yang sedikit buat kami!

Di sela-sela mempersiapkan file dan kertas buku Vickram, aku juga membuat rencana timeline produksi sampai acara Press Print Party pada 7-9 November 2025 di Jakarta. Ada beberapa buku yang perlu SOKONG! produksi. Semoga semua berjalan lancar. 

Buku Vickram akan diluncurkan pada tanggal 2 November 2025 di TOS!. Di acara peluncuran tersebut, tentu buku Vickram sudah harus jadi. 10 minimal. Bisa dibayangkan kan apa yang akan kulakukan pada hari Kamis, Jumat, dan Sabtu? Memotong, melipat, dan menjahit buku! Sambil ketik sana ketik sini buat persiapan peluncuran buku. Asal musik tetap menyala dengan speaker yang bagus, semua akan dilewati dengan ringan. Insya Allah. 


28 Oktober 2025

 

Namanya Kates. Dia belum lama keluar dari rawat inap di klinik hewan dekat rumah. Lima hari ia menginap di sana. Kata dokter yang baik hati, ia terkena virus mematikan. Menurut survey, hanya 20% yang bisa selamat. Aku harap Kates salah satunya. Sepulang dari klinik, Kates terlihat membaik hari demi hari. Pileknya sudah tak tampak lagi. Sudah mau makan. Sudah lari-lari lagi main sama Rawon, adiknya yang baru barusia dua bulan. 

Aku harus berterima kasih kepada DèDocVet, klinik tempat Kates dirawat. Ini adalah kali kedua klinik tersebut memberi pertolongan kepada kucing kami. Yang pertama adalah Megono, ibunya Kates. Waktu itu Kates belum lahir. Megono sempat kena scabies parah. Dan Abi, teman kami melihat ada klinik hewan baru buka dan bertanya apakah bisa menjenguk Megono di rumah. Megono adalah pasien pertama mereka. Dan sekarang, Megono sehat. 

Sebelumnya, aku punya pengalaman buruk dengan klinik hewan. Setiap kucing yang kami bawa ke klinik hewan selalu berakhir dengan kematian. Jadi, terima kasih sekali lagi dokter-dokter di DèDocVet. Kalian baik. Terima kasih dokter-dokter hewan yang baik. 


27 Oktober 2025

 

Proyek esensialku hari ini adalah mengirim paket buku ke Bandung dan mulai menyiapkan deskripsi workshop zine kolase koran untuk acara Diskomfest 9.

Setiap mengirim paket bervolume besar, aku butuh menyediakan banyak waktu. Kali ini aku jalani dengan ringan saja. Langkah kecil pertama yang perlu dilakukan adalah mengambil penggaris untuk mengukur volume paket buku. Ukuran ini penting diketahui karena aku pakai Paxel same day yang ada ketentutan ukuran volumenya. Dengan tahu ketentuan, jadi tahu bagaimana ambang batas atas dan batas bawahnya untuk menyusun buku di dalam kardus nanti. Lalu setelahnya ke toko packaging untuk beli kardus, membungkus dengan buble wrap, menulis alamat, lalu ke Paxel. 

Sementara untuk deskripsi workshop zine kolase koran, aku baru sampai bikin draft 0. Aku sudah masukkan ke note Hpku. Aku akan mengerjakannya waktu menunggu di toko percetakan besok. 

Chill. 

26 Oktober 2025

 

Hari ini adalah hari terkahir masa prapesan buku Ina Lefa Ina Levo. Harusnya aku membuat konten pengingat, tetapi tidak mampu membuatnya. Aku merasa kesulitan membuat konten promosi untuk buku foto pertama Vickram ini. Apakah karena terlalu hati-hati dalam mengambil sudut pandang? Ah, aku tak tahu. 

Awalnya, aku berencana membuat konten semacam photobook flip through. Namun, ketika mengedit (banyak) foto buku di Photoshop, aku menyerah. "Seharusnya tidak perlu se-ngoyo ini, deh", batinku. Ya, aku merasa dalam membuat konten promosi, tidak hanya di media sosial SOKONG!, tapi juga TOS!, aku merasa terlalu effort. Aku ingin membuat konten promosi yang effortless, tapi kok ya susah. huhuhu. Aku belum menemukan cara paling mudahnya. Belum punya sistem yang sederhana. 

Singkat cerita, kegagalanku dalam membuat konten pengingat akhir masa prapesan itu bikin aku terpuruk. Aku langsung merasa payah. Tiba-tiba jadi "gelap". Aku butuh bantuan. 

Aku sedang menjaga TOS! waktu merasa payah tersebut. Apa kiranya yang bisa membantuku melewati perasaan payah ini? Aku lalu memutuskan pergi sejenak ke Toga Mas, sebuah toko buku di Kotabaru yang jaraknya 5 menit berkendara dari toko. Aku niat mencari buku motivasi untuk meredakan perasaan payah. Tidak ada judul spesifik yang aku mau cari ketika mau pergi. 

Sesampai di Toga Mas, aku bertemu dengan buku bejudul Effortless. Greg McKeown adalah penulis dari buku Esensialisme--buku yang aku baca minggu lalu di Bolo. Effortless adalah buku kelanjutannya. Damn! Judulnya saja adalah hal yang ingin aku lakukan, dan aku cocok dengan cara bercerita Greg yang tidak panjang lebar dan menggurui. Tanpa pikir panjang aku beli. 

20 Oktober 2025

 

Aku bertemu album ini di ruang dengar Bolo Space. Minggu malam itu, aku kabur sejenak dari kebisingan suara manusia di Bolo Space yang sedang ramai-ramainya. Ketika sedang duduk-duduk santai meredakan stress, Bagus, si pemilik Bolo, datang menghampiri. "Mau dengar musik, ndak? Atau sedang tidak mau mendengar musik?" tanyanya. "Boleh, putar saja," jawabku singkat. Bagus lalu mengambil sebuah piringan hitam yang baru ia beli. Setelah memberi pengantar singkat tentang Willis Jackson dan menunjukkan betapa bagus artwork album Plays with Feeling, dia putar vinyl tersebut. Mengganti nyala lampu yang awalnya putih terang jadi kuning temaram. 

Feeling adalah track ke-2 yang aku dengar dari album yang rilis pada 1976 tersebut. Sejak intro, aku sudah dibuat jatuh cinta pada track ini. 

Sesampainya di rumah, aku mencari lagi track tersebut di internet untuk mendengarkannya lagi. Sebuah track yang mewah, menggugah, dan indah! 

Terima kasih, Bagus!

19 Oktober 2025

Bertemu dengan orang-orang baik dan suportif. Sejak mengelola toko buku dan perpustakaan yang fokus pada publikasi artistik, aku dan Nia bertemu dengan orang-orang yang mendukung keberadaan ruang dan komunitas kecil ini. Apa yang bisa kami lakukan hanyalah berterima kasih dan melanjutkan inisiatif-inisiatif kecil yang berbasis komunitas ini.  

18 Oktober 2025

 


Secara random aku bertemu dengan sebuah buku berjudul Esensialisme: Pentingkan yang Penting Saja oleh Greg McKeown. 

Ada rak buku baru di sudut ruang Bolo Space, sebuah kedai kopi di Kotabaru. TOS! Art Bookshop & Library by SOKONG! berlokasi di halaman belakang kedai kopi tersebut. Aku bertemu dengan buku Esensialisme secara tak sengaja. Ketika melihat rak buku ini, aku teringat dengan kata-kata Inun, pemilik Bawabuku, tentang kedai kopi yang menyediakan sudut baca umumnya tak punya kurasi buku yang ketat--untuk tidak menyebutnya asal-asalan. Melihat isi rak buku di Bolo memang Inun ada benarnya: acak dan koleksinya tak tentu arah. Di rak ini, novel sampai katalog film tersedia. Kondisinya pun umumnya mengenaskan. Tapi, buku tetaplah buku. Kondisi tidak memengaruhi kualitas isi, bukan? 

Ketika melihat buku-buku di rak Bolo, aku tertarik untuk mengambil sebuah buku berjudul Esensialisme. Aku pikir isi buku ini terkait pemikiran filsafat. Eh, ternyata buku motivasi alias self-help. hahaha. Lucunya lagi, setelah membuka buku ini secara asal dan membacanya, aku merasa bahwa aku butuh baca buku ini untuk menolongku yang sedang dipenuhi pikiran-pikiran busuk. hahahaha. 

Fun fact: aku bahkan sampai membawa buku ini pulang untuk aku baca di rumah. Buku ini membantuku untuk berlatih fokus pada apa yang penting sekarang. Aku jadi lebih menyediakan diriku untuk waktu sekarang. Buku ini mengingatkanku kalau masalahku selama ini adalah tidak punya waktu jeda untuk membuat rencana, berpikir, dan membuat persiapan. Terlalu sibuk memikirkan dan membayangkan kegagalan dan ketakutan dari masa lalu dan masa mendatang. Yang buatku tak melakukan apa-apa: diam tak berkutik. Suduh cukup takut dan cemasnya, ya gaessss.... 

Terima kasih bukunya, Bolo!

16 Oktober 2025

 


Akhirnya malam hari ini berhasil mengunggah konten prapesan buku terbitan SOKONG! terbaru. Menyiapkan materi untuk konten prapesan kali ini cukup berat. Seperti orang yang tidak lama lari lalu harus berlari. Badan berat bergerak.

Tahun ini aku disibukkan dengan mengelola toko buku. Ketika tiba saatnya switch ke mode penerbit lagi, aku gelagapan. Ada banyak perkara teknis yang membuatku menunda-nunda, ragu mengambil keputusan. Rasanya seperti amatir. 

Ini adalah buku pertama yang aku terbitkan tahun ini. Setelah ini, ada buku-buku lainnya yang perlu disiapkan materi konten prapesan lagi. Juga cobaan produksi cetak digital yang selalu buat aku gemetar. Apakah aku bisa terus bertahan? 

13 Oktober 2025


Habis menonton dua film karya sutradara Bas Devos, Here (2024) dan Ghost Tropic (2019). Sebagai penonton film, aku punya film idaman sendiri: sebuah film yang simpel, tanpa banyak dialog, efek, aksi, dan konflik. Aku selalu mencari dan berharap bertemu film-film yang punya arahan seperti itu. Seperti dua film arahan Bas Devos tersebut. Seperti film-film yang disutradarai dan ditulis oleh Aki Kaurismaki, Hong Sang-soo, Kelly Reichardt, dan Naomi Kawase. 
"Aku berbaring, menatap dunia tanpa nama"

11 September 2025


Aku hampir melewati jalan ini setiap hari. Namun, baru kali ini aku melihat pemandangan seperti ini. Warnanya menarik perhatianku. Aku melewatinya sore tadi. Sambil berkendara, aku merogoh saku celana. "Sial! Lupa bawa ponsel." Sampai di rumah, aku lantas mengambil ponsel dan segera keluar berkendara menuju tempat ini lagi. Aku benar-benar ingin memotretnya. Pemandangan seperti ini bersifat sementara.

 

1 April 2025


Lama tidak membuat catatan. Ingin update cepat saja bahwa aku dan Nia sudah resmi membuka TOS! pada 21 Februari 2025. Kami menyebutnya small art booksop and library by SOKONG!. Bertempat di Bolo Space, Kota Baru, Yogyakarta. Jika teman-teman ingin mengikuti perkembangan inisiatif kami ini, silakan ikuti @toskecil ya :)

*

Aku dan Nia masih di Jakarta dalam rangka mudik lebaran. Kemarin setelah halal bi halal, kami mengunjungi toko buku di Matraman untuk beli beberapa buku. Seperti sudah jadi tradisi bahwa ketika lebaran perlu membekali diri dengan buku-buku baru. Namun, kali ini di samping buku-buku yang wajib dibaca, ada dua buku yang berkaitan dengan toko buku, yaitu Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop dan Book's Kitchen. Dua buku yang sudah kami incar untuk memberi wawasan kepada kami sebagai pendatang baru di bidang perniagaan buku. 

Selama satu bulan lebih mengelola toko buku, ada perubahan pola hidup yang kami jalani. Selain tentu saja jadi punya rutinitas membuka toko setiap pukul 15.00 - 21.00, kami juga jadi bertemu dengan banyak orang baru. Orang-orang di luar lingkaran kami. Hal yang paling menyenangkan adalah ketika melihat mereka membaca buku di dalam toko kami. Apalagi jika membeli salah satu buku yang terpanjang di rak jual. Membuat hati hangat dan senang. Namun, juga ada waktu-waktu sedih tentu saja, yaitu ketika toko sepi tidak ada pengunjung sama sekali. Sedih betul hati ini. 

Perasaan-perasaan awal membuka toko yang harus kami lalui. Kami sadar bahwa di masa bulan pertama buka toko memang belum ada niatan untuk langsung dar der dor jualan. Kami fokus membiasakan diri dengan pola hidup baru ini, beradaptasi dengan ruang komunal baru di Bolo Space, dan pelan-pelan mengisi rak buku jualan kami. Tentu sambil promo tipis-tipis mengenalkan ruang baru kami di media sosial. 

Setelah lebaran nanti, kami berniat melakukan promo yang kontinyu dan tidak malu-malu agar toko buku kami lebih punya dampak ke komunitas lebih luas. Tentu untuk melakukan kegiatan promo seperti itu tidak semudah yang dibayangkan. Hal itu yang aku terus pikirkan pada bulan Maret lalu. Apa ya cara promo di media sosial, di Instagram khususnya, yang sederhana, effortless, dan praktis? Pertanyaan itu juga sulit aku jawab. ahahaha.

Aku berharap novel Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop dan Book's Kitchen bisa membantuku untuk mengatasi kesulitanku ini. Dan benar saja, ketika membaca bagian awal Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop, aku mendapatkan ide kecil yang sepertinya bisa menjawab pertanyaanku dan bisa aku uji cobakan di @toskecil.

Jadi, bagaimana jika aku menganggap @toskecil sebagai platform untuk nge-blog? Untuk membagikan kisah keseharian yang aku dan Nia jalani di toko? Seperti membuat catatan harian saja, seperti aku membuat catatan di blog ini? Meski tentu tidak akan sepanjang di sini, wkwkwk. 

*

Aku ingin membagi bagian yang kubaca dari novel karangan Hwang Bo-reum ini yang menstimulus hadirnya ide kecil ini:
    Bukan hanya orang-orang di sekitar lingkungan itu, tetapi mulai bermunculan para pelanggan yang dengan sengaja berkunjung ke toko buku. Melihat tiga-empat orang pelanggan yang sedang membaca buku, Ibu Min-cheol tampak senang dan bertanya, "Bagaimana mereka tahu tentang tempat ini?" 
    "Mereka datang setelah melihat unggahan di Instagram."
    "Apakah kau yang membuatnya?"
    "Memo-memo di buku itu. Isi yang tertulis di sana saya unggah juga ke Instagram."
    "Jadi, mereka datang jauh-jauh ke sini setelah melihat itu?"
    Saya mengunggah banyak hal, seperti ucapan selamat pagi setelah berangkat kerja, memperkenalkan buku yang sedang saya baca, terkadang saya juga mengeluh karena lelah, atau memberi salam sepulang kerja."
    "Aku tidak tahu banyak tentang orang-orang di zaman sekarang, tapi mereka rela datang jauh-jauh ke sini? Bagaimanapun, itu melegakan. Kupikir kau hanya duduk-duduk saja, tetapi ternyata ada juga sesuatu yang sedang kau kerjakan."    
    Ketika Yeong-ju mengabaikan toko, tidak banyak hal yang bisa dikerjakannya. Tetapi, setelah dia mulai memperhatikan toko, pekerjaan terus-menerus berdatangan. Tangan dan kakinya harus rajin bergerak mulai dari berangkat hingga pulang kerja. 
-nukilan dari Welcome to the Hyunam-Dong Bookshop, Terj. Suci Anggunisa Pertiwi (GRASINDO, 2024), h. 12

4 Januari 2025

 


Sabtu sore menyempatkan diri untuk datang di acara diskusi Refleksi 10 Tahun Program Film Danais. Aku tahu acara ini dari poster yang diunggah Bagus Suitrawan di Instagram. Bagus sendiri adalah insan sinema sekaligus pengelola Bolo Space di Kotabaru, tempat diskusi ini digelar. 

Aku mengikuti diskusi ini selama kurang lebih tiga jam. Berada satu ruang yang dipenuhi dengan insan perfilman independen Jogja tentu menjadi pengalaman tersendiri. Ada banyak hal baru yang aku ketahui terkait masalah-masalah komunitas film lokal dan bagaimana love hate relationship mereka dengan pemerintah daerah yang punya program pendanaan film lewat dana keistimewaan. 

Jika ada satu hal yang paling menarik perhatianku selama diskusi, itu adalah cara komunikasi dari para pembicara dan peserta diskusi. Para sutradara punya cara bicara praktis, langsung dar der dor dan quotable. Sementara para pemangku kepentingan yang diwakili oleh "bapak & ibu" pemerintah daerah, cara tuturnya seperti sedang rapat dinas, normatif, dan kaku. Hadir juga para peneliti dan akademis yang membawa banyak data dan pemaparan-pemaparan. Di lain sisi, para kurator program berperan sebagai pihak yang menengahi kepentingan-kepentingan. Aku hanya mengamati dan menikmati celotehan mereka. 

Tentu aku salut dengan ekosistem perfilman independen Jogja yang guyub seperti ini. Aku kira sudah jadi tradisi di Jogja bahwa antarseniman saling terhubung dan punya forum untuk membicarakan masalah bersama. Menariknya, di komunitas film, para pemangku kepentingan juga meluangkan waktunya untuk hadir. 

Ngomong-ngomong, selain mengikuti diskusi, kehadiranku juga ingin cek ombak terkait ruang. Tahun ini Nia dan aku punya rencana untuk mengisi salah satu ruang yang ada di Bolo Space. Kami berencana membuat toko buku dan perpustakaan kecil di Bolo Space. Jika rencana ini terealisasi, jam buka toko nanti dari pukul 15.00 - 19.00 WIB. Sampai sekarang, TOS! (TOKO SOKONG!) jadi kandidat nama terbaik. Nama ini adalah saran Zizi waktu Nia minta saran nama toko ke teman-teman di Instagramnya. Dari banyak saran yang kebanyakan di luar nalar, saran dari Zizi yang paling masuk akal. :) 

3 Januari 2025

 


Aku dan Nia sedang membantu seorang seniman membuat artist's book. Ukuran bukunya 40 x 50 cm. Ini adalah ukuran buku terbesar yang pernah kami buat. Ada banyak orang yang terlibat dalam pengerjaan buku edisi unik ini (dibuat cuma 1). Kompleksitas produksi membuat buku ini perlu dikerjakan oleh banyak orang. Dari cetak foto yang menggunakan teknik salt print dan vandyke brown printing, cetak sablon untuk teks, book binding dengan teknik khusus (aku lupa nama tekniknya), dan clamshell box buat packaging. Secara skala produksi, tentu ini level yang berbeda, apalagi dengan tenggat waktu yang singkat. Hari ini semua materi cetak sudah diserahkan ke book binder. Proses penjilidan dan pengerjaan packaging berbarengan. Tanggal 6 besok adalah tenggat buku selesai karena tanggal 7 pagi buku harus diterbangkan ke luar negeri. Ngeri-ngeri sedap. Semoga lancar. Amin. 

2 Januari 2025

 


Mengawali tahun 2025 dengan terlibat di acara Urup 2025: Babak Terbit. Selain menjadi salah satu pemateri kelas Urup, SOKONG! juga membuka area baca. Kami membawa semua terbitan dan beberapa koleksi perpustakaan. Kami juga bagi-bagi zine cetak gratis. Zine berjudul Tanda Mata Pertemanan sendiri bisa diunduh secara gratis di sini

* * *

Tahun 2025 bersama SOKONG!, aku punya beberapa keinginan. Keinginan untuk menerbitkan 1 judul buku setiap bulan. Keinginan unttuk mulai mengelola ruang baca dan distribusi buku bersama Nia. Keinginan untuk menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak. Keinginan untuk semakin profesional dalam menjalani peran sebagai penerbit.

Semoga keinginan-keinginan tersebut bisa tercapai. 
Amin. 

7 November 2024



Malam ini memutuskan untuk menonton IDRF (Festival Naskah Lakon) di Auditorium IFI-LIP. Menonton pertunjukan sekelompok orang membacakan naskah lakon rasanya menyenangkan. 

Benar. 

Aku menikmati satu setengah jam pertunjukan pembacaan naskah Emesis karya Heneliis Notton oleh Landung Simatupang dan Perkumpulan Seni Nusantara Baca. 

Di tengah kegelapan bangku penonton, aku merasa nyaman. 

Di tengah pertunjukan, ada sekelibat pikiran datang. Aku sedang berada di Kota Yogyakarta. Kota yang memiliki agenda seni tiap bulan, bahkan mingguan. Dari pameran, penayangan, sampai pertunjukan seni. Orang-orang di kota ini suka membikin acara berskala festival. Komunitas-komunitas seni di kota ini juga gemar membuat program publik seperti diskusi dan lain-lain. Belum ruang-ruang seni dan literasi yang sudah punya program rutin. Kenapa aku sudah jarang sekali menyediakan waktu untuk merengkuh dan menikmati semua ini? 

Di tengah menjalani peranku sebagai penerbit, aku tidak ingin sibuk sendiri. Sudah mulai ada kebutuhan untuk menikmati hidup di kota ini. Dan sekarang, seolah, aku tahu bagaimana menikmati kota ini. 

Aku menyesal tidak menonton pameran Dolorosa Sinaga di Jogja National Museum. Pamerannya berakhir hari ini. Konyol memang, melewatkan pameran yang berlangsung selama satu bulan. Tentu pameran Dolo bukan satu-satunya yang aku lewatkan. Sejak beberapa tahun lalu, hampir semua pameran seni rupa aku lewatkan. Lama tertanam di benakku kalau apa yang tersaji di pameran seni rupa tersebut adalah "omong kosong dagangan". Buatku malas datang ke pameran-pameran, bahkan yang dianggap penting oleh banyak orang. 

Ya sudah. Setidaknya, sekarang, aku punya motif baru untuk mendatangi acara-acara kesenian itu di masa mendatang. Ya, untuk menikmati kota yang aku tinggali ini. Tidak semua kota memiliki paket komplit peristiwa seni seperti di sini. Mau buat dagangan atau pendidikan atau pemberdayaan, terserah. Aku hanya ingin menikmati kota ini.